Sunday, 15 July 2012

Cara Menyampaikan Dakwah (Bahagian 1)

0 comments



Allah SWT. berfirman:

'Serulah (manusia) ke jalan tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang Maha Mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.'
(Q.S. An Nahl: 125)

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Ubadah Bin Shamid, yang mengatakan:

"Kami membaiat Rasulullah saw. untuk setia mendengarkan dan mentaati perintah beliau, baik dalam keadaan yang kami senangi maupun yang kami benci, dan kami tidak akan merebut kekuasaan dari seorang pemimpin dan kami akan berbuat dan berkata benar di mana saja kami berada, kami tidak pernah takut karena Allah atas celaan orang yang mencela."

Ayat tersebut menjelaskan cara berdakwah kepada Islam. Sedangkan hadits di atas, menjelaskan bahwa perkataan yang benar (qaulul haq) adalah sebahagian dari apa yang dibai'atkan kaum muslimin kepada Rasulullah saw., sekaligus menjelaskan bagaimana keadaan qaulul haq tersebut.

Tentang dakwah untuk mengajak manusia kepada Islam, ayat tersebut menjelaskan bahawa manusia dapat didakwahi kepada agama Allah dengan tiga cara, salah satunya adalah dakwah dengan hikmah."Hikmah" adalah al burhan al aqli (argumentasi rational). Maksudnya, argumentasi yang masuk akal, yang tidak dapat dibantah, dan memuaskan. Inilah yang bisa mempengaruhi jiwa (pikiran dan perasaan) siapa saja, sebab manusia tidak akan dapat menutupi akalnya di hadapan-argumentasi-argumentasi yang jelas, serta di hadapan pemikiran yang kuat.

Oleh kerana itu, berdakwah dengan argumentasi dan hujjah ini akan dapat mempengaruhi para pemikir mahupun bukan pemikir. Inilah yang ditakuti oleh orang-orang kafir serta orang-orang atheis, juga ditakuti oleh orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Sebab, inilah yang dapat membongkar kebatilan, menerangi wajah kebenaran, serta boleh menjadi api yang mampu membakar kebatilan dan menjadi cahaya yang dapat menyinari kebenaran.

Dari sinilah, kita dapat menemukan, bahwa Al-Qur'an telah mengemukakan hujjah-hujjah yang jelas dan argumentasi-argumentasi rational. Ia merupakan bentuk ungkapan yang paling dalam, serta argumentasi-argumentasi dan hujjah-hujjah yang jelas.

Dengan demikian, maka menjadikan salah satu metode dakwah dengan hikmah atau dengan argumentasi rational dan memuaskan tersebut adalah wajib. Allah SWT. berfirman:

'Dan Dia-lah yang menemukan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan, Kami halau ke suatu daerah yang tandus lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Maka Kami keluarkan dengan Sebab hujan itu perbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran."
                  (Q.S. Al A'raf: 57)

Adalah keliru, kalau seseorang menyangka bahwa "hikmah' adalah kebijaksanaan, kelemah-lembutan atau keramahan. Sebab, makna tersebut sama sekali tidak pernah dikemukakan oleh ayat di atas. Kata "hikmah", memang bisa jadi bermakna menempatkan persoalan pada tempatnya, dan bisa jadi hujjah dan argumentasi. Di dalam ayat ini, tidak mungkin ditafsirkan dengan menempatkan persoalan pada tempatnya. Maka jelaslah, bahwa makna kata "hikmah" tersebut adalah hujjah dan argumentasi.

Bersambung......

Leave a Reply

Labels